Epistemologi Islam: Integrasi Agama, Filsafat, dan Sains dalam Perspektif Al-Farabi dan Ibnu Rusyd

Rp 90.000Rp 72.000

Penulis: Dr. A Khudori Soleh, M.Ag

Penerbit: Ar-Ruzz Media

Deskripsi:

EPISTEMOLOGI ISLAMIntegrasi Agama, Filsafat, dan Sains(Perspektif Al-Farabi dan Ibn Rusyd) Dr. A Khudori Soleh, M.AgAr-Ruzz Media, 17 x 24Al-Farabi (870—950
M), yang mewariskan sedikitnya 119 karya tulis, adalah tokoh besar setelah Aristoteles
(384—322 SM) yang berjasa mendefinisikan batas-batas dari setiap cabang
pengetahuan serta merumuskan setiap disiplin ilmu dalam suatu metode paling
sistematik dan permanen dalam peradaban Islam. Rumusan dan klasifikasi ilmunya
dikenal secara luas oleh masyarakat dan paling berpengaruh dalam sejarah
peradaban Islam periode awal. Karena itulah, dia diberi gelar al-Muallim
al-Tsâni (Guru Kedua) dalam pemikiran Islam setelah Aristoteles (384—322 SM)
sebagai “Guru Pertama”. (Prof. Sayyid Husein Nasr)Sumbangan Ibn
Rusyd (1126—1198 M), tokoh yang menulis 117 buah buku, dalam filsafat dan sains
hanya dapat disejajarkan dengan Al-Farabi (870—950 M) dan Ibn Sina (980—1037
M), dua pesaingnya di Timur. Meski demikian, Ibn Rusyd (1126-1198 M) masih
mengungguli keduanya dalam tiga hal pokok: (1) kemahirannya dalam menguraikan
dan menafsirkan pemikiran Aristoteles (384—322 SM) sehingga diberi gelar “Sang
Komentator”; (2) kontribusinya pada bidang fiqh (yurisprudensi); (3)
sumbangannya pada bidang teologi. (Prof. Majid Fakhry)Ibn Rusyd (1126—1198),
tokoh terbesar Aristotelianisme Muslim, telah berjasa mengupayakan sistesis
terbesar antara tradisi filosofis Yunani dengan kepercayaan pada Tuhan Yang
Esa. Sistemnya tidak hanya “memberi kepenuhan” pada pemikiran Yunani di mata
kaum teis, tetapi juga memberi landasan pada periode skolastik dalam tradisi
teologi Kristen yang telah menghasilkan karya teologi filosofis paling
sistematis yang pernah saya kenal dalam tradisi Kristen. Ajaran-ajaran Ibn
Rusyd tentang penciptaan yang memperlihatkan bagaimana Tuhan dapat menjadi
Penyebab langsung keberadaan dunia adalah sangat dekat dengan gambaran yang
diberikan Alkitab maupun Al-Quran mengenai penciptaan daripada
pendahulu-pendahulu Neo-Platonismenya. (Prof. Philip Clayton)



















Kajian tentang
epistemologi Al-Farabi dan Ibn Rusyd, menjadi sangat relevan saat ini. Pertama,
kedua tokoh ini sama-sama berusaha mempertemukan dikotomi antara wahyu, rasio,
dan realitas, yang saat ini dikenal dengan program islamisasi atau integrasi
ilmu. Kedua, adanya kecenderungan kuat di kalangan muda Muslim kontemporer
untuk mengkaji ulang warisan keilmuan Islam klasik dalam upaya membangun
peradaban Islam masa depan. Ketiga, kedua tokoh secara geografis mewakili
wilayah Islam Timur dan Barat, dan secara keilmuan mewakili tradisi
neo-Platonis dan Aristotelian Islam sehingga kajian keduanya berarti merangkum
keseluruhan wilayah dan mazhab besar pemikiran filsafat Islam.


ISBN: 978-602-313-182-2

Tahun: 2017



Stok Tersedia Beli

Bagikan: