main.javascript_is_disabled
Belajar Mencintai Kambing
Penulis: Mahfud Ikhwan
Penerbit: Pojok Cerpen
Rp 44.000
Rp 55.000
20 % off
Dilihat 64
Stok 5
Berat Pengiriman 200 gram
Kategori:
Budaya
, Sastra
Format Cover: Softcover Tahun Terbit: 2019 Bahasa: Indonesia Halaman: 132 Dimensi: 12x18 cm
Deskripsi: SAAT musim libur sekolah, ia berharap dibelikan sepeda. Namun, bapaknya malah membelikannya seekor kambing. "Kambing bisa membuatmu lebih dewasa, sedangkan sepeda akan membuatmu tetap jadi kanak-kanak," demikian bapaknya memberi alasan. "Tapi aku ingin sepeda." "Kambing lebih baik." la menangis. Ibunya mencoba menghiburnya. Menurut ibunya, sepeda bisa rusak, tapi kambing justru dapat beranak. la lalu terdiam, tetapi tetap saja ia tidak menyukai kambing pemberian bapaknya. Di matanya, kambing itu tampak buruk. Kepala dan mulutnya yang legam terlihat jelek sekali, bulunya kotor, dan badannya kurus. Dan embekannya bikin sakit telinga. Pasti kambing itu jauh lebih murah dari harga sepeda. Tapi bapaknya, yang menurut cerita ibunya menghabiskan masa remajanya sebagai penggembala, memastikan bahwa kambing itu dari jenis yang paling baik. Bulunya hitam mengkilat, tanduknya gagah, tungkainya panjang, dan yang terpenting ia pasti betina yang subur. Dan, karena itu, bapaknya rela memecah celengan yang dikumpulkan dari hasil panen bengkuang akhir bulan puasa lalu, Plus keuntungan dari pembakaran gamping yang terakhir, untuk menebusnya. Dan ia terus belajar mencintai, meskipun ia tidak cukup paham bahwa hidup memang adalah belajar mencintai. (Kenapa bayi selalu menangis ketika dilahirkan? Karena manusia Iahir tanpa satu pun yang dicintai.) Tidak gampang, itu jelas. Tapi, pada akhirnya, kisah berujung bahagia pun tiba: tanduk kambing itu tak mengancam lagi, tungkainya tidak membangkang lagi. Benar pula kata bapaknya, kambing memang tak sejahat manusia. Tak ada maksud, tak ada ingin, tanpa dendam, tanpa keculasan.

Dukungan Pengiriman:

Kilat Khusus
Express
EZ
OKE
REG
YES
ECO
ONS
REG
Normal Service