main.javascript_is_disabled

MELAYANG DARI MASA DEPAN (1)

  18 Maret 2019        152

MELAYANG DARI MASA DEPAN (1)

 

‘Tanpa imajinasi,

ilmu pengetahuanpun

adalah sebuah ruang yang beku’.

 

Ide awal tema ini sebenarnya terinspirasi dari makalah ST Sunardi tentang ‘Zarathustra’ karya Nietzsche. Yang salah satu tema menarik di dalamnya adalah tentang waktu. Beliau menulis, bahwa menjadi manusia berarti bertarung melawan waktu. Kegagalan orang bermain-main dengan waktu membuat orang tidak hidup di masa kini.

Berangkat dari inspirasi di atas, tulisan ini akan dimulai dengan sebuah kisah imajinatif.

***

Aku adalah seorang petualang. Dan aku adalah ‘orang masa kini’ (men of the present). Selama ini sudah banyak tempat di belahan bumi ini yang telah aku datangi. Sudah berpundi-pundi kepingan ilmu yang telah aku punguti. Lalu, setiap pulang ke rumah, kepingan tersebut kutempel pada tembok rumah. Kini kepingan-kepingan itu menempel memenuhi tembok rumahku, menjadi semacam mosaik ilmu. Hampir tak ada lagi tembok yang kosong. Akupun bangga dengan mosaik ilmu itu.

Sebenarnya, keinginanku untuk terus berpetualang tak pernah padam. Namun, akhir-akhir ini aku merasa aneh. Setiap kali aku susun rencana petualangan baru, selalu tak selesai. Terutama saat merencanakan tujuan petualangan. Rasanya semua tempat telah aku datangi. Tentu saja, ada juga tempat yang belum pernah aku ke sana. Tapi kehangatan senja dan dingin malamnya, sama atau mirip tempat lain yang pernah aku datangi. Dan aku kesulitan untuk menemukan tempat baru yang mampu menggiurkan jiwa petuangan ini.

Aku pun coba merenung. Mengapa saat ini aku sulit menemukan tujuan petualangan.

Tanpa sengaja, di masa perenungan itu, aku duduk di ruangan rumahku tempat aku menempel mosaik ilmu hasil petualangan di waktu lalu. Kusentuh lagi satu-satu. Bertebaran ragam cerita tentang ‘masa lalu’. Penuh kelebat pencerahan dari kepingan masa lalu untuk aku sebagai ‘orang masa kini’. Kualitas hidup masa kiniku adalah hasil nasehat dari kepingan-kepingan masa lalu. Salah satu pencerahannya adalah ‘kepastian’. Tak dapat dipungkiri, masa lalu adalah sebuah ‘kepastian’ bagi masa kini. Bahkan sepahit apapun masa lalu, tetap saja sebuah kepastian.

Jangan lupa, pada sebuah kepastian, resiko dan pengorbanan bisa diminimalisir, bahkan nyaris nol. Tetapi pada sebuah ‘ketidakpastian’, sungguh terbentang sabana resiko dan pengorbanan. Dan ‘ketidakpastian’ adalah milik masa depan.

Tiba-tiba, muncullah ide!

Mengapa aku tidak berkelana ke ‘masa depan’ saja ?

Selama ini kemanapun aku berkelana hanya di masa kini.

Selama ini aku hanya menemukan mosaik ilmu berdimensi ‘masa lalu’. Dan tentunya, akupun hanya belajar dari cerita masa lalu, hanya belajar dari ‘kepastian’. Sehingga akupun tak pernah belajar tentang pilihan, resiko dan kepedulian.

Siapa tahu, jika aku kali ini berpetualang ke masa depan, aku akan mendapatkan cerita yang berbeda. Cerita dari masa depan. Dan ketika nanti pulang ke masa kini, mosaik ilmu yang aku tempelkan di tembok tak lagi tentang masa lalu, tetapi tentang ‘masa depan’. Juga, aku bisa mendapatkan pencerahan hidup tidak hanya dari ‘kepastian’ (masa lalu) tetapi juga dari ‘ketidakpastian’ (masa depan). Pasti mosaik ilmu di tembok rumah akan semakin berpelangi.

Tanpa pikir panjang, sebagai orang masa kini, aku putuskan berangkat berpetualang ke masa depan. Namun, belum jauh kaki melangkah, baru tersadar, hendak ke masa depan ‘apa’ aku pergi? Maka terpaksa, aku harus berani ‘berimajinasi’. Tanpa keberanian berimajinasi, tak ada masa depan. Kalaupun ada, berarti masa depan hasil imajinasi orang lain dan itu milik orang lain. Bukankah masa depan adalah apa yang kita imajinasikan?

Cukup lama aku berpetualang di masa depan sana, sebelum akhirnya aku putuskan pulang ke rumah masa kini. Sekarung banyaknya, kepingan kisah masa depan yang mampu aku bawa pulang ke masa kini. Memang sangat berbeda dengan kepingan kisah hasil petualanganku sebelumnya. Dan yang paling membedakan adalah kepingan kisah yang semuanya ‘ketidakpastian’.

Tak sabar rasanya, untuk segera menempelkannya di tembok rumah. Tak sabar juga untuk segera aku gunakan untuk kepentingan hidupku di masa kini nanti. Semoga belajar dari ‘masa depan’ adalah demi ‘masa kini’ tak kehilangan dimensi waktu.

Ada tawa dan juga kepedihan, saat melihat orang masa kini melalui perspektif masa depan. Terutama orang masa kini yang tak berani mengimajinasikan masa depannya.

 

 (Arif Doelz)