main.javascript_is_disabled

Kartini dan Blackpink

  16 April 2019        63

Kartini dan Blackpink

 

Cerita di mulai melalui kalimat dengan awalan pada suatu hari.

Pada suatu hari yang biasa saja—matahari masih bersinar, angin masih bertiup, knalpot kendaraan bermotor masih meraung di jalanan yang panas—seorang perempuan mendendangkan dengan terbata-bata lirik lagu Kill This Love. Tembang paling anyar dari grup perempuan bernama Blackpink. Perempuan pendendang lagu itu mengenakan stelan rapi dengan headset terpasang di telinganya yang lucu. Tampak bahagia—terlihat dari senyum yang mengembang di kedua pipinya yang ranum.

Di tempat lain, segerombolan mahasiswa perempuan bercakap tentang sosok idola mereka. Tentu dari idol grup lelaki. Sayup terdengar nama grup semacam Big Bang, Exo, BTS dan beberapa nama lain. Tak lupa pula gosip terbaru dari negara asal grup-grup itu. Cengkerama mereka tampak serius seperti diskusi mata kuliah yang jika tak dapat nilai bagus maka sudah dipastikan akan menghambat mereka lulus. Lalu di perpustakaan, sebuah moto skripsi seorang mahasiswa terlihat meminjam lirik lagu Big Bang berjudul Let’s Not Fall In Love. Sudah itu, Kpop menyebar bak virus di tengah-tengah remaja yang disebut mahasiswa. Menjadi semacam cita-cita untuk sekadar bertemu idola mereka. Maka berita perihal lagu, videoklip, drama, dan segala tetek bengek idola akan menjadi kebutuhan sehari-hari. Lalu, darimana mereka menemukan berita seperti itu jika bukan dari benda yang mereka genggam tiap hari? Jadilah internet raja di atas kebutuhan lain umat manusia penggemar.

Tunggu, tentu tidak semua seperti itu dan hal seperti itu bukan sesuatu tentang benar dan salah, baik dan buruk. Akan terlampau lelah kita memikirkan tentang baik dan buruk, juga benar dan salah. Maka, di salah satu sudut kampus, beberapa mahasiswa yang disinyalir masa studinya sudah mendekati habis, membuka obrolan soal masa kecil. Tentang lompat tali, layangan, gundu, gasing, juga beberapa sebutan untuk dolanan semasa mereka kanak. Perdebatan penyebutan nama dolanan sudah seperti debat pilpres yang kadang panas, kadang lucu, kadang aneh dan membosankan. Jika sudah panas, seperti kembali ke masa kecil dulu, mereka akan saling ejek nama bapak, nama ibu, kondisi fisik, juga panggilan aneh lainnya. Tentu dalam konteks yang tidak serius melempar benci. Dan jadilah gerombolan ini tetap riang dalam bercanda dan bermain dalam ingatan masa kanak.

Pada pusaran ini, Blackpink pamit undur diri. Muncul kembali nanti di layar gengam, melalui aplikasi media sosial. Muncul bareng caci maki, ujaran kebencian, berita yang sulit dicari kebenarannya, juga pisuhan yang tak pantas disebutkan. Kebencian tidak kenal lelaki atau perempuan, status sosial dalam masyarakat, batasan usia, keyakian, makanan favorit atau minuman favorit, pun lagu yang didengarkan. Hal itu menjangkit dan mewabah.

Di tengah lalu-lalang dunia dalam jaringan yang pesat, hal-hal serupa Blackpink menjadi oase di padang gurun. Menjadi semacam pelepas dahaga dan penunda lapar. Ya, jaringan internet mengubah cara kerja dunia. Menjangkau lekuk yang paling erotis hingga meditasi paling agamis.

Barangkali begitu cara kerja 4g. Lalu, bagaimana jika waktu bisa dimundurkan? Seperti ke masa 30 tahun lalu atau ke masa 130 tahun lalu. Masa ketika Blackpink, internet, dan media sosial semacam Facebook, Twitter, dan Instagram belum ada. Masa ketika seorang perempuan anti kemapanan tersadar dan memberontak pada tatanan. Konon, ia tidak menerima tradisi yang tidak membebaskan dirinya untuk belajar dan melakukan banyak hal. Ia merasa terkekang dengan aturan yang sudah mengakar kuat selama angka tahunan. Di dalam tembok kerajaan, ia berkorespondensi dengan seorang kawan di belahan dunia lain. Kelak, surat-suratnya kita kenal pada sebuah kumpulan bernama Habis Gelap Terbitlah Terang.

140 tahun lalu ia—Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat­­—terlahir dalam darah seorang bangsawan dengan tradisi Jawa yang kukuh. Bagi seorang perempuan kala itu, tradisi Jawa dianggapnya kurang berpihak padanya. Pendidikan untuk seorang perempuan dan laki-laki jelas dibedakan. Perempuan dididik untuk mengurusi hal-hal berbau rumah tangga dan tidak bebas melakukan yang dinginkannya. Kartini terlahir untuk mendobrak tatanan itu. Maka, ketika ia dipinang oleh seorang K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat di bilangan 24 untuk dijadikan istri keempat, ia meminta syarat. Salah satunya adalah sekolah yang dibangun untuknya mengajar perempuan-perempuan muda. Melalui pendidikan dan sekolah yang dibangun dengan ia sebagai pengajarnya, Kartini menghendaki hak perempuan dalam pendidikan yang layak. Namun, Kartini tidak hidup dengan usia yang panjang. Pada persalinan anak pertama di usia 25, ia kembali pada Pencipta.

Hasil perjuangan Kartini kini dapat dirasakan. Seorang perempuan muda menenteng tas berisi beberapa buku di salah satu kampus megah di Yogyakarta. Menempuh pendidikan tinggi dengan sesekali mendendangkan lirik Kill This Love untuk melepas penat. Bersiap menghadapi serentetan peluru tugas kuliah yang kelak mendewasakan dan mencerdaskan dirinya. Barangkali, begitulah Kartini masa kini.

 

 

Gilang Gilbo

April 2019